Opih (sebelah kanan) sedang menyuruh murid-muridnya untuk berbaris.

Terik matahari maupun hujan bukan menjadi penghalang baginya untuk menunaikan tugas sebagai guru. Lima kilo meter ia tempuh dengan berjalan kaki untuk sampai di sekolah tempat ia mengajar. Jarang sekali ada kendaraan umum di sana. Ia pun tak memiliki sepeda apalagi sepeda motor, namun tetap semangat berjalan kaki menuju sekolahnya.

Opih adalah pendiri sekaligus pengajar TK Mandiri di Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. TK ini berdiri sejak tahun 2015. Kini Opih sudah memiliki 27 murid yang bersekolah di sini. Diawal-awal berdiri TK ini hanya memiliki 3 murid dan tidak memiliki ruang kelas untuk belajar, sehingga Opih harus meminjam halaman rumah tetangganya untuk dijadikan tempat belajar.

Cibiran tak pernah absen Opih dapatkan saat memperjuangan masa depan TK yang ia dirikan. Banyak masyarakat yang meremehkan dan memandang sebelah mata apa yang Opih lakukan. Bahkan sampai ada yang tidak mempercayai kalau Opih akan bisa mempertahankan TK yang ia bangun. Di tengah cibiran yang selalu Opih dapatkan, keluarganya selalu mendukung apa yang ia perjuangkan. Dukungan dari keluargalah yang menjadikan penyemangat tersendiri manakala motivasi Opih sedang turun.

“Sering sekali saya mendengar orang-orang membicarakan saya. Ada yang bilang saya tidak bisa apa-apa, tapi mau mendirikan sekolah. Ada juga yang melarang anaknya sekolah karena tidak percaya dengan saya. Wah, pokoknya banyak sekali komentar-komentar yang tidak mengenakkan yang saya dapat selama membangun sekolah ini,” ungkap ibu yang baru memiliki dua orang anak ini.

Hampir semua Opih lakukan sendiri, mulai dari mengurus perijinan yayasan hingga bisa mendirikan gedung sendiri untuk murid-muridnya belajar. Tak hanya tenaga dan waktu yang Opih korbankan, bahkan tak sedikit uang pribadi ia keluarkan demi sekolah yang didirikannya. Tak ada rasa menyesal apalagi kapok, meskipun sudah banyak hal Opih korbankan. Termasuk menjual satu-satunya motor yang dimiliki suaminya demi menambah uang untuk membangun gedung sekolah.

Kini, TK Mandiri sudah memiliki ruangan untuk kegiatan belajar mengajar, namun sarana dan prasarananya masih belum memadai. Bahkan kondisi bangunannya masih belum diplester, jendelanya masih dari bambu, pintunya belum memiliki kunci, belum ada kwh listrik, belum ada lemari sebagai tempat penyimpanan, belum ada arena bermain, dan sebagian lantainya masih tanah. Untuk dapat mendidirikan bangunan tersebut, Opih harus rela menghibahkan tanah milik suaminya, bahkan ia harus meminjam uang ke bank dan koperasi yang jumlahnya mencapai puluhan juta. Hal ini ia lakukan lantaran uang urunan dari orang tua siswa tidak mencukupi untuk mendirikan bangunan.

“Waktu itu uang dari orang tua siswa hanya terkumpul sebanyak 850 ribu. Padahal, perkiraan awalnya bisa terkumpul sampai 5 juta. Saya bingung, dengan uang segitu mana cukup untuk mendirikan bangunan,” ungkap Opih.

Saat itu, masyarakat sudah berkumpul untuk gotong-royong mendirikan bangunan. Orang tua siswa pun sudah ingin sekali punya bangunan sendiri untuk sekolah anaknya. Akhirnya dengan modal nekad Opih pun memberikan perintah untuk mendirikan bangunan sekolah tersebut. Opih yang pada awalnya ingin membangun rumah sendiri, pada akhiranya ia urungkan. Padahal, ia dan suaminya sudah mengumpulkan pasir, kayu dan batu, namun harus direlakan untuk mendirikan bangunan TK Mandiri.

Masa-masa awal TK mandiri berdiri, Opih sembari menggendong anak keduanya yang masih bayi berjalan kaki sekitar 40 menit untuk sampai di sana. Opih yang seharusnya merawat anaknya di rumah, justru harus membawa anaknya ke sekolah lantaran tidak ada yang menjaga anaknya. Bahkan terkadang Opih harus berjualan nasi uduk dan emping terlebih dahulu, sebelum ia berangkat ke sekolah untuk mengajar.

“Pernah juga saya sambil gendong si dede kehujanan di tengah jalan. Hujannya deras sekali waktu itu. Padahal, tinggal sebentar lagi sampai TK. Ya sudah, mau gak mau kami berteduh dulu di saung deket sawah. Terus telat sampai sekolahnya,” kata Opih dengan semangat menceritakan kembali pengalamannya.

Tidak sampai di situ, Opih juga seringkali kehabisan uang manakala ia harus ke Pandeglang mengurus keperluan sekolah. Setiap mau ke Pandeglang, seringnya Opih hanya membawa uang seadanya. Terkadang ia juga harus rela bermalam di sana lantaran tidak punya uang untuk pulang atau kerena sudah tidak ada kendaraan umum yang menuju ke rumahnya. Kendaraan umum di desa Opih hanya ada satu yang lewat dalam sehari.

Opih menceritakan bahwa, ia dan suaminya pernah hanya membawa uang 30 ribu untuk pergi ke Pandeglang mengurus keperluan sekolah. Opih dan suaminya tidak bisa pulang karena uangnya tidak cukup. Akhirnya ia dan suami memutuskan untuk bermalam di masjid. Saat itu sedang bulan puasa. Tidak disangka, keajaiban terjadi. Opih bertemu dengan temannya, lalu ia diberikan uang sebanyak 300 ribu untuk ongkos pulang.

“Saya bertemu dengan teman, saya cerita saja kalau saya sedang mengurus kepentingan sekolah. Terus dia tanya, ada ongkos untuk pulang tidak, saya hanya tersenyum. Terus saya langsung dikasih uang 300 ribu buat pulang. Alhamdulillah, uangnya itu lebih dari cukup malahan bisa untuk beli baju lebaran,” ungkap Opih.

Waktu itu, Opih belum bisa membeli baju lebaran untuk anaknya. Bahkan dia sudah pasrah kalau lebaran kala itu ia tidak bisa membelikan baju lebaran. Namun, berkat uang 300 ribu yang ia dapat dari temannya, ia bisa membeli baju lebaran untuk anaknya. Malam di mana Opih dan suaminya tidak bisa pulang, Opih langsung membeli baju lebaran. Sesampainya di rumah anaknya sangat senang karena dibelikan baju lebaran dari orang tuanya.

Kejadian itu, tak hanya sekali dialami oleh Opih. Seringkali saat Opih mendapatkan kesulitan, misalnya kehabisan ongkos, ada saja yang membantu Opih. Entah itu, memberikan uang untuk ongkos pulang ataupun ditawari ikut naik kendaraan pulang ke rumah.

Di balik kegigihan Opih, beberapa kali ia juga hampir putus asa dan ingin menyerah. Setiap kali perasaan ingin menyerah itu muncul, Opih kembali mengingat perjuangannya. Apalagi ia berjuang dengan menggendong anaknya yang masih bayi menuju sekolah. Akhirnya, semangat Opih kembali muncul jika ia ingat-ingat kembali seperti apa perjuangannya itu.

Opih bukanlah lulusan sarjana. Ia hanya lulusan sekolah kejuruan. Namun, ia mau memperjuangkan pendidikan di lingkungannya. Jangan tanyakan gaji yang didapatkan Opih. Tentu saja Opih tidak mendapatkan gaji, malah uang pribadinya yang ia pakai untuk menutupi kekurangan kebutuhan sekolah. Selama mengajar Opih dibantu kawannya, Dedeh.

Satu bulan lalu, sekolah Opih hampir mau dihapus dari dinas lantaran sering terlambat membuat laporan rutin karena tidak memiliki komputer. Tak hanya itu, laporan Opih juga pernah ditolak karena saat itu sekolahnya belum memiliki gedung bahkan ia pernah dituduh ada penggandaan siswa di sekolahnya.

“Waktu itu, saya juga pernah dibilang kalau saya ini malu-maluin. Sekolahnya enggak punya gedung. Padahal, saya juga sering mengajukan bantuan ke dinas terkait tapi tidak ada kejelasan sampai saat ini. Bahkan pernah juga ada yang menjanjikan mau bantu bangun gedung, tapi nyatanya saya hanya dijanjikan begitu saja. Bilang iya nanti dibantu, tapi gak ada kejelasannya,” jelas Opih.

Motivasi Opih untuk terus berjuang di bidang pendidikan ialah kerena keprihatinannya melihat kondisi anak-anak yang seharusnya sekolah justru ikut ke sawah atau kebun untuk membantu pekerjaan orang tua mereka. Tingkat kesadaran pendidikan di lingkungan Opih masih rendah. Ketimbang menyuruh anaknya sekolah, kebanyakan dari orang tua di sana justru menyuruh anaknya membantu pekerjaan mereka. Hal ini yang mendorong Opih untuk memperjuangkan hak pendidikan anak-anak di sana.

Semasa sekolah, biaya sekolah Opih ditanggung oleh gurunya. Dari situ Opih merasa ia juga harus bisa memperjuangkan pendidikan dan mengubah lingkungan tempat tinggalnya agar lebih baik lagi. Sampai pada akhirnya Opih berhasil mendirikan TK Mandiri dan terus memperjuangkan sekolahnya sampai saat ini.

“Saya ingin anak-anak di sini merasakan pendidikan sejak dini. Saya sangat berharap TK ini bisa semakin maju dan layak untuk anak-anak di sini,” tutur Opih yang ingin sekali berkuliah namun belum bisa lantaran terkendala biaya.

%d bloggers like this: