Jejeran makam akan meyambut siapapun yang hendak datang ke kampung ini. Lokasi kampung berada di ujung kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Orang-orang biasa menyebutnya dengan Kampung Pemulung. Setibanya di sana, deretan botol plastik yang kemudian berganti menyambut para pendatang.

“Kak, salim,” ujar Arif, anak berusia lima tahun sambil mengulurkan tangannya meminta untuk bersalaman.

Anak-anak Kampung Pemulung selalu antusias menyambut pendatang yang singgah di kampungnya. Mereka bisa langsung akrab dengan orang yang baru dikenal. Tenang saja, anak-anak di sini asik diajak ngobrol dan bermain. Tak perlu khawatir mau bersikap seperti apa, yang jelas mereka akan sangat antusias menjawab pertanyaan yang diajukan untuk mereka.

Keceriaan anak-anak saat bermain di makam samping rumah mereka.

Tidak ada mall. Tidak ada taman bermain. Yang ada hanya pemandangan makam di samping rumah-rumah warga. Lokasi yang dianggap menyeramkan bagi beberapa orang. Namun, tidak bagi anak-anak Kampung Pemulung. Mereka justru setiap hari bermain di situ. Kejar-kejaran, menerbangkan layangan, memetik bunga yang tumbuh di area makam, atau sekadar duduk-duduk santai menikmati hembusan angin yang lewet.

Pekerjaan warga kampung pemulung, tak semuanya menjadi pemulung. Ada pula yang bekerja sebagai pengurus makam dan berjualan makanan. Kebanyakan warga Kampung pemulung adalah pendatang. Entah itu, dari Jawa Barat, Jawa Tegah, maupun Jawa Timur. Tak sedikit pula yang tidak memiliki dokumen kependudukan yang lengkap.

Banyak anak-anak Kampung Pemulung yang putus sekolah. Hal ini karena faktor keluarga yang tidak mendukung mereka bersekolah serta terhambat oleh dokumen persyaratan pendaftaran sekolah yang tidak ada. Meskipun banyak anak yang putus sekolah, tidak menghalangi semangat mereka untuk terus belajar. Mereka menimba ilmu melalui saung baca yang ada di sana.

Saung Baca Garpu, tempat anak-anak Kampung Pemulung memupuk rasa empati sejak dini.

Saung Baca Garpu namanya. Garpu sendiri singkatan dari Gabungan Remaja Peduli. Berdiri sejak  tahun 2016. Di sini anak-anak belajar mata pelajaran yang diajarkan di sekolah serta belajar kesenian seperti melukis dan menari. Lalu, ada satu hal inspiratif yang diajarkan di Saung Baca Garpu ini. Anak-anak di sana diajarkan untuk memahami arti syukur.

“Saya hanya mengajarkan kepada mereka tentang arti rasa syukur. Di mana mereka akan disayangi banyak orang. Contoh kecilnya, ketika mereka mendapatkan buku, pensil, tas, sepatu, baju, dll. Mereka harus bersyukur dengan apa yang sudah mereka dapat,” ujar Ida, salah satu pengajar, yang juga merupakan salah satu pendiri Saung Baca Garpu.

Setelah anak-anak Saunga Baca sadar akan pentingnya rasa syukur, barulah Ida mengajak anak-anak tersebut untuk melakukan kebaikan. Ida menyampaikan bahwa dengan berbagi kita tidak akan pernah merasakan kekukuran dan berbagipun tidak harus dengan sesuatu yang mahal. Berbagi satu pensil saja sudah sangat berarti untuk yang menerimanya.

Ida sedang memberikan materi kepada anak-anak Saung Baca Garpu.

Ida selalu menceritakan kondisi teman-teman yang kurang beruntumg. Hal ini Ida lakukan untuk membangun rasa empati anak-anak Saung Baca Garpu. Apa yang Ida lakukan ini berhasil. Anak-anak tersebut selalu merespon cerita yang disampaikan Ida dengan baik. Bahkan, anak-anak berinisiatif untuk memberikan apa yang layak diberikan untuk teman-teman mereka. Mereka berimajinasi sendiri dan menyebutkan apa yang harus mereka lakukan untuk membantu teman-temanya.

“Anak-anak Saung Baca Garpu ini pernah berbagi dengan sekolah pemulung, dengan anak yatim, dengan teman-teman korban bencana gempa bumi di Lombok, dan berbagi dengan adik-adik di Ujung Kulon, Banten,” tutur Ida.

Nurjanah (13 tahun), mengatakan apa yang mereka dapatkan adalah pemberian, jadi ia pun harus berbagi dengan teman-temannya yang lain juga. Ia mendapatkan meja belajar, kemudian ia mendonasikan meja belajarnya. Tak ada rasa berat melepaskan meja belajar tersebut, meskipun ia baru mendapatkannya. Ia justru merasa bahagia karena bisa berbagi dengan teman-temannya yang lain.

Hal tersebut juga dirasakan Meli (12 tahun). Bahagia kerena telah membantu dan berbagi, meskipun kondisi yang ia alami tidak jauh berbeda dengan teman-teman yang mendapatkan hadiah dari anak-anak Saung Baca Garpu.

“Enggak apa-apa berbagi, kan mereka juga membutuhkan. Kita dapat hadiah dari orang lain, jadi kita berbagi. Lagi pula, nanti kita kan bisa dapat hadiah lagi,” ujar Meli yang saat ini duduk di kelas 6 SD dan bercita-cita ingin jadi guru.

Anak-anak Saung Baca Garpu memiliki keyakinan, jika mereka berbagi maka mereka juga akan mendapatkan penggantinya. Apa yang mereka yakini, memang benar terjadi. Ketika mereka memberikan apa yang mereka miliki, lalu tak lama setelahnya mereka mendapatkan kembali hadiah baru. Hal ini, kemudian menjadikan anak-anak ini semangat berbagi meskipun mereka sendiri hidup dengan segala keterbatasan.

%d bloggers like this: